Sunday, February 22, 2015

INDONESIA MILIK KITA


INDONESIA MILIK KITA

Kita tentu sangat prihatin dengan kondisi negeri kita saat ini. Hampir setiap waktu perjalanannya selalu diwarnai oleh konflik di kalangan para pejabatnya, apalagi setiap pasca pergantian pemimpin pusat.
Apakah mereka (para pejabat) tidak menyadari betul-betul kalau konflik di antara mereka sangat berimbas-buruk bagi kehidupan rakyatnya? Kalau mereka berkilah: "Gampang urusan rakyatnya sih, bisa ditunda dulu..."  Ini adalah prilaku pejabat yang egois, yang mengutamakan kepentingan dirinya semata.
Bagaimana negeri ini bisa jaya dan tangguh di mata dunia, kalau para pengurusnya (= pejabat) itu saling-adu-jotos dengan sesama pengurus lainnya?
Maka nada-nada sindiranpun sering terdengar: "Kalau para pejabatnya saja pada kisruh, bagaimana dengan nasib rakyatnya yang awam...?" Lalu, jangan salahkan kalau banyak rakyat berani menilai-negatif terhadap atasannya itu. "Mereka kan orang-orang pinter, tapi prilakunya seperti anak kecil..."

Nah, sudah saatnya untuk segera menghentikan segala konflik di seluruh lapisan penghuni negeri ini: mulai dari rakyatnya di bawah sampai kepada para pejabatnya di atas!

"Indonesia ini milik kita"! Mari kita bangun bersama! Dalam proses perjalanannya,  mari utamakan kepentingan bersama! Dan mari berjiwa lapang terhadap sesama anak bangsa: saling memaafkan dan tenggang rasa.

Sesungguhnya musuh kita adalah orang-orang yang hanya ingin mengeruk keuntungan dan merampok kekayaan negeri ini hanya untuk kesenangan pribadi, keluarga, golongan atau komunitas lainnya: bisa dari pihak-pihak asing atau orang-orang yang menjadi antek-antek pihak asing itu !!!

Mereka itulah yang harus diwaspadai...!!!

Ya, bila "Indonesia Milik Kita", jangan biarkan dia kacau-balau karena ulah tangan-tangan kita sendiri! Kita juga nantinya yang akan sengsara menanggung akibatnya...!!!

"Sebaik-baiknya manusia di antara kamu ialah orang yang bermanfaat di antara kamu." (Al-Hadits Mutawattir).

****

Friday, February 6, 2015

DUA MALAIKAT YANG MENYAMAR SEBAGAI TAMU MISTERIUS



KHUTBAH JUM’AT :
SABDA AL-QUSHWA


“Siapa yang beriman kepada Alloh dan kepada hari kiamat,
maka muliakanlah tamunya...”
(HR. Bukhori – Muslim).

Tamu adalah orang yang datang ke tempat atau rumah kita. Ada tamu yang dekat dan ada tamu yang jauh; ada tamu yang kita kenal dan ada tamu yang tidak kita kenal. Siapapun mereka, kita diperintahkan untuk memuliakan tamu-tamu tersebut. Yakni, menyambut dan melayaninya secara baik (dalam batas-batas yang diperintahkan agama) hingga mereka pulang.
Dari sekian banyak tamu-tamu yang datang mengunjungi kita, tentu ada tamu misterius –yang kita tidak bisa mengenalinya.

Siapakah tamu misterius itu?
Tamu misterius ini adalah malaikat yang menyerupai manusia (bisa orang kita kenal atau yang tidak kita kenal).

Sebagai contoh penyerupaan malaikat ke dalam bentuk rupa manusia yang telah terjadi, antara lain ialah:
·         Ketika datang bertamu kepada Nabi Ibrohim ('alaihissalam).
“Sudahkah sampai kepadamu tentang cerita tamu Ibrohim yang dimuliakan?”
“Ketika mereka masuk ke tempat Ibrohim lalu mengucapkan: ‘Salam’. Ibrohim menjawab: ‘Salam, wahai orang-orang yang tak dikenal’.” (QS. Adz-Dzariyat: 24-25).
·         Ketika datang menemui Nabi Muhammad (shollallohu ‘alaihi wa sallam).
Dalam Hadits Arba’in Imam Annawawy  (hadits nomer 2) dijelaskan, bahwa malaikat datang menemui Nabi Muhammad untuk meminta keterangan tentang Islam, Iman, Ihsan dan Hari Kiamat. Setelah selesai, Nabi Muhammad bersabda:
“Fa innahu jibriilu ataakum yu’allimukum diinakum (Maka sesungguhnya dia itu adalah Jibril. Dia datang mengajarkan kalian tentang Agama Islam).” (HR. Muslim).

Lalu...
Kapankah kemungkinan malaikat itu datang bertamu kepada kita (sebagai tamu misterius)?
Kemungkinannya ialah pada dua saat besar dalam perjalanan hidup kita ini  --yang mana kita tidak menyadari akan kehadirannya...

Pertama: saat dalam keadaan kaya
Saat itu malaikat datang menyerupai bentuk manusia sebagai orang miskin yang meminta-minta dengan pakaian compang-camping, kurus, dekil, kusut dan menjijikkan. Tujuannya ialah untuk menguji: apakah orang kaya itu pemurah atau kikir.

 Kedua: saat dalam keadaan miskin
Saat  itu malaikat datang sebagai orang kaya (bos, saudagar, konglomerat, pengusaha, dll.) untuk memberi bantuan. Ini bisa dikatakan sebagai anugerah terbesar Alloh yang tidak bisa diduga-duga keberadaannya.

Catatan: kedatangan malaikat yang menyerupai wujud manusia itu, akan membawa perubahan besar dalam kehidupan orang-orang yang didatanginya: Yang miskin bisa mendadak menjadi kaya, dan yang kaya bisa berubah menjadi miskin.

Mari simak baik-baik sebuah kisah yang disampaikan oleh Rosululloh ini (dari Abu Huroiroh, riwayat Bukhori - Muslim):
Pada zaman dahulu, ada tiga orang dari Bani Isroil yang menderita suatu penyakit: ada yang kulitnya belang (al-abrosho), ada yang kepalanya botak (al-aqro’a)dan ada yang matanya buta (al-a’maa).
Kemudian Alloh mengutus malaikat untuk menemui mereka satu per satu dan memberikan pertolongan kepada mereka...
Tanya malaikat: “Ayyu syai-in ahabbu ilaika (Sesuatu apakah yang paling engkau sukai)?”
·         Jawab si belang: “Lawnun hasanun, wa jildun hasanun (Warna yang bagus dan kulit yang bagus)”
·         Jawab si botak: “Sya’run hasanun (Rambut yang bagus)!”
·         Jawab si buta: “An-yaruddallohu ilaa bashorii, fa ubshiron-naas (Sekiranya Alloh mengembalikan pandangan mataku, lalu aku bisa melihat manusia).

Malaikat itu kemudian mengusap kulit si belang, mengusap kepala si botak, dan mengusap mata si buta. Dengan izin Alloh, ketiga orang berpenyakit itu sembuh dari penyakitnya.
Kemudian malaikat bertanya lagi: “Ayyul-maali ahabbu ilaika (Harta apa yang paling kamu sukai)?”
·         Jawab si belang: “Al-ibilu (onta).”
·         Jawab si botak: “Al-baqoru (sapi).”
·         Jawab si buta: “Al-ghonamu (kambing).”

Dalam beberapa tahun kemudian, ketiga orang tersebut sudah menjadi orang yang kaya raya. Maka, saat itu datang lagi seorang malaikat dengan wujud-rupa orang miskin yang kehabisan bekal di perjalanan.
Malaikat itu pertama mendatangi si belang, katanya: “Rojulun miskiinun... fii safarii... Aku adalah orang miskin yang kehabisan bekal dalam perjalananku. Mohonlah sudi kiranya tuan memberikan seekor onta kepadaku...”
Jawab si belang: “Al-huquuqu katsiirotun (Masih banyak hak-hak orang lainnya)!”
Kata malaikat: “Ka-annii a’rifuka (Sepertinya aku kenal tuan).”
Si belang: “Innamaa waritstu haadzal-maala kaabiron ‘an kaabirin (Sesungguhnya harta ini adalah warisan dari orang-orang tuaku)!”
Malaikat: “In kunta kaadziban fa-shoyyarokallohu ilaa maa kunta (Jika tuan berdusta, maka Alloh akan mengembalikanmu kepada keadaan seperti semula)!”
Lalu, malaikat mendatangi si botak. Jawabannya sama dengan si belang. Dan terakhir mendatangi si buta...
Jawab si buta: “Qod kunta a’maa. Fa roddallohu ilayya bashorii. Fa khudz maa syi-ta... (Sungguh aku dulu buta. Maka Alloh mengembalikan penglihatanku. Maka silahkan ambil apa-apa yang kamu mau... Sesungguhnya aku tidak keberatan dengan apa-apa yang kamu ambil karena Alloh ‘Azz wa Jalla).”
Kata malaiakat: “Amsik maalaka. Fa innamaab-tuliitum. Faqod rodhiyallou ‘anka. Wa sakhitho ‘alaa shoohibaika! (Jagalah hartamu. Sesungguhnya kamu hanyalah diuji. Maka  Alloh telah ridho kepadamu, dan Dia marah kepada dua temanmu itu)!”

Demikianlah, sebuah renungan yang patut menjadi cermin bagi kita !!                    
Barokallohu lii wa lakum...






************na-06022015.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               

Wednesday, December 31, 2014

7 API KEBANGKITAN




1.      “Hai orang yang berselimut!”
2.      “Bangkitlah, lalu berilah peringatan.”
3.      “Dan Tuhanmu, maka agungkanlah.”
4.      “Dan pakaianmu, maka bersihkanlah.”
5.      “Dan perbuatan dosa, maka tinggalkanlah.”
6.      “Dan janganlah kamu memberi dengan mengharap balasan yang lebih banyak.”
7.      “Dan demi Tuhanmu, maka bersabarlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 1-7).


Anta syamsun. Anta badrun. Anta nurun.
You are a sun. You are a moon. You are a light.
Engkau adalah matahari. Engkau adalah purnama. Engkau adalah cahaya.
......

Itulah sebuah gambaran kehadiran Nabi Muhammad (shollallohu ‘alaihi wa sallam) di panggung sejarah kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Seperti itulah memang layaknya...

Laksana matahari di pagi hari.
Laksana purnama di malam buta.
Laksana cahaya dalam kegelapan.

Pada saat itu, dunia (khususnya di Jazirah Arab) sedang dilanda “kegelapan kejahiliyahan”.

Apa itu “jahiliyah”?

Jahiliyah artinya bodoh, yakni: tidak mengenal Alloh berdasarkan petunjuk-Nya sehingga salah dalam beribadah kepada-Nya. Padahal, dalam pergaulan mereka sehari-hari, mereka kerap menyebut nama “Alloh”. Seperti dalam perjanjian atau sumpah, mereka selalu mengawalinya dengan kalimat “Bismika Allohumma (Dengan menyebut Nama-Mu, ya Alloh)”. Karena tidak ada petunjuk dari Alloh, jadilah mereka salah dalam memposisikan Alloh sebagai Tuhan dalam kehidupan mereka. Dan mereka memuja Alloh di hadapan patung-patung yang jumlahnya sampai ratusan buah. Di antara patung-patung itu yang terkenal ialah Hubal, Manat, Uzza dan yang lainnya.
Demikianlah kondisi mereka saat itu, sebagaimana firman Alloh ini:  
“Mereka tidak mengenal/mengagungkan/menghormati Alloh dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kuat, Maha Perkasa.” ( QS. Al-Hajj: 74, juga dalam Surah Al-An’am: 91, Az-Zumar: 67).

Jadi, jahiliyah/bodoh-nya masyarakat Arab dulu itu ialah dalam hal pemahaman agama/aqidah. Sedangkan dalam ilmu-ilmu lainnya, mereka tidak kalah kemajuannya dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka. Buktinya, kota Mekkah menjadi sentral aktivitas mereka yang tidak bisa dipandang remeh. Sehingga, Raja Abrohah  dari Abesyinia merasa iri dan ingin menghancurkan Kota Suci itu. (Kisahnya diabadikan dalam QS. Al-Fiil: 1-5).

Salah satu kelebihan yang sangat menonjol dari mereka ialah keahlian mereka dalam berdagang. Abu Sufyan, Abu Jahal, Abu Lahab dan abu-abu lainnya, mereka adalah orang-orang pintar di kalangan mereka. Al-Quran mengabadikan kehebatan mereka ini:
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy.
“Yakni kebiasaan mereka bepergian (berdagang) pada musim dingin (ke Yaman) dan pada musim panas (ke Syam).
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik Rumah ini (Ka’bah).
Tuhan Yang telah memberi makanan kepada mereka  dari kelaparan dan Yang telah memberikan keamanan dari ketakutan.” (QS. Quraisy: 1-4).

Dan ayat-ayat lainnya yang berkaitan dengan perdagangan ialah: QS. 62 : 9-11, 24 : 37, 61 : 10, 35 : 29.

Itulah sebagai bukti, bahwa kemajuan perdagangan di kalangan masyarakat Arab pada saat itu sangat dominan. Sehingga banyak ayat Al-Quran yang mengaitkannya dengan hal tersebut. Ini berarti, kehidupan materi mereka cukup subur. Dus, dunia pendidikanpun tentu mengalami kemajuan. Maka, tentulah merekapun memiliki ilmu pengetahuan yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya.

***

Nah, di tengah-tengah kegelapan jahiliyah itulah Nabi Muhammad dibangkitkan...

Firman Alloh:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Katakanlah: ‘Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku: Bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Satu. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)’. ” (QS. Al-Anbiya: 107-108).

Sabda Rosululloh:
“Sesungguhnya aku dibangkitkan untuk menyempurnakan kemuliaan prilaku (akhlak).” (Al-Hadits, seiring dengan QS. An-Nahl : 36.)

Sungguh ini tugas berat yang harus beliau hadapi. Al-Quran menjelaskan karakter masyarakat Arab saat itu...
“Orang-orang Arab itu amat-sangat kekafiran dan kemunafikannya...” (QS. At-Taubah: 97).

Lalu... Dinyalakanlah api kebangkitan itu dengan diawali tujuh poin seruan itu...!

***

Secara fakta sejarah, kebangkitan Nabi Muhammad bersama ajaran Islam yang dibawanya itu, adalah hanya satu kali dalam putaran kehidupan manusia di muka bumi ini.
Tapi, secara tersirat, maknawiyahnya bisa diserap untuk terus dinyalakan bagi kebangkitan-kebangkitan selanjutnya selama kehidupan ini masih berjalan.
Maka, di awal tahun  ini, kembali kita harus menyalakan api kebangkitan itu, agar pencapaian-pencapaian yang kita peroleh lebih baik lagi.

Sebuah intisari keterangan dari hadits yang sangat terkenal menjelaskan dalam 3 renungan:


1.       “Orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, itulah orang yang beruntung”.
Ini sebuah gambaran orang yang kreatif, inovatif, kritis, waspada, penuh persiapan dalam menghadapi langkah ke depan. Dia selalu berusaha untuk tampil terdepan dan terbaik.
“... dan untuk hal itu, maka hendaklah berlomba orang yang ingin berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthoffifin: 26).

2.       “Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, itulah orang yang tidak cerdas”.

Ini gambaran orang yang malas, masa-bodoh, tidak peduli, terserah apa jadinya nanti. Yang penting baginya hanyalah makan, tidur dan main-main.
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang diri mereka...?” (QS. Ar-Rum: 8).
“... Maka apakah mereka tidak menggunakannya otaknya?” (QS. Yasin: 68).

3.       “Orang yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin, itulah orang yang rugi”.

Ini gambaran orang yang putus-asa, tidak mau memperbaiki diri, menganggap hidup ini tak berarti lagi. Baginya ‘hidup segan mati tak mau’. Sampai akhirnya dia mati membawa penyesalan.
“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 2).

***

Nah, ada di posisi mana kita hingga hari ini?
Ya, apapun keadaan kita di tahun lalu, biarlah semuanya berlalu...!
Kini, mau dibawa ke mana diri ini?
Jujur, siapapun tentu tak ingin menyakiti diri ini...!

Oleh karena itu... mari kita refresh kembali “Tujuh Api Kebangkitan”  ini untuk membakar semangat kita di awal tahun 2015 ini...!

1.       “Hai orang yang berselimut!”

“Berselimut”... menggambarkan sesuatu yang “tertutup”. Bisa juga sebagai sikap orang yang “malas, tak gairah, mati langkah atau  putus-asa ”. Jika terus-terusan berselimut, maka ini alamat “kematian”. Baru terasa penyesalan setelah berada di lobang kubur.
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal sholih sebagaimana yang telah aku tinggalkan’. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (yang memisahkan dunia dan akhirat) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100).
“... Sesungguhnya mereka telah putus-asa terhadap kehidupan akhirat sebagaimana putus-asanya orang-orang kafir dari penghuni kubur.” (QS. Al-Mumtahanah: 13).

2.       “Bangkitlah, lalu berilah peringatan!”

Sebelum menjadi pelopor bagi orang lain, bangkitkan dulu diri sendiri. Kita cambuk diri ini dengan peringatan-peringatan bahwa: esok harus lebih baik!
“... Berlomba-lombalah dalam kebaikan...!” (QS. Al-Baqoroh: 148, Al-Maidah: 48).

3.       “Dan Tuhanmu, agungkanlah!”

Kebangkitan ini harus ada di Jalan Alloh. Karena itu, kita harus...
·         Meng-esa-kan-Nya (tahlil: Laa ilaaha illalloh).
“Alloh menyatakan bahwa: tiada Tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang berilmu (juga menyatakan demikian). Tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” ( QS. Ali Imron: 18).
·         Memuji-Nya (tahmid: Al-hamdulillah).
“Segala puji bagi Alloh Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Penguasa hari pengadilan.” (QS. Al-Fatihah: 1-3).
·         Mensucikan-Nya (tasbih: Subhanalloh).
“Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan sore.”(QS. Al-Ahzab: 42).
·         Membesarkan-Nya (takbir: Allohu Akbar).
“... Dan hendaklah kamu membesarkan/mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”(QS. Al-Baqoroh: 185).
·         Mengerjakan  rukuk dan sujud di hadapan-Nya (melaksanakan ibadah kepada-Nya).
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepada sesuatu yang diyakini (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99).

4.       “Dan pakaianmu, bersihkanlah!”

Dalam hal ini ada 2 pengertian:
1.       “Pakaian jasmani”(luar diri: tubuh, badan), ialah baju, celana dan perlengkapan lainnya.
2.       “Pakaian rohani” (dalam diri: hati, jiwa), ialah ikhlas, sabar dan sifat-sifat mulia lainnya.
Catatan: “bersihkanlah” ini menunjukkan kepada pakaian-pakaian yang sudah ada, dan makna lainnya ialah agar tampil wajar, sopan dan dihargai. Sehingga, penilaian orang bukan kepada “apa yang serba baru”, tapi lebih kepada kepandaian kita dalam menata dan menjaga diri.
“Dan janganlah kamu merasa hina, dan janganlah bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imron: 139).

5.       “Dan (segala yang mengandung) dosa, maka tinggalkanlah!”

Ayat ini menandakan sebagai “hijrah perbuatan” (dari dosa menuju pahala), atau sebagai prosesi “pensucian diri”. Jadi, jangan sampai kita mengajak orang lain untuk mengejar kebaikan, sementara diri kita sendiri penuh dengan kotoran.
“Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Al-Quran). Maka apakah kamu tidak berakal?” (QS. Al-Baqoroh: 44).

6.       “Dan janganlah kamu memberi  (dengan berharap) balasan yang lebih banyak.”

Adalah manusiawi mengharapkan balasan dari apa yang sudah kita berikan. Tapi, yang pasti, Alloh sudah membalas perbuatan kita. Kalau masih mengharap dari manusia, maka yang wajar dan sepantasnyalah. Itupun, hanya dari orang-orang yang memang punya kemampuan untuk membalas. Misalnya, antara karyawan dan majikan: ketika harga kebutuhan sehari-hari naik (secara global akibat naiknya harga BBM atau lainnya), lalu karyawan menuntut kenaikan gaji, maka hal ini harus disesuaikan dengan kenaikan harga produk. Dan intinya, antara karyawan dan majikan harus ada saling pertimbangan dan pengertian, sehingga tidak ada tuntutan (demo) yang berkepanjangan, dan tidak merugikan pihak manapun.
“Hendaklah berinfak orang yang mampu (kaya) sesuai kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah berinfak sesuai apa-apa yang sudah diberikan Alloh kepadanya. Alloh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sesuai apa-apa yang sudah Dia berikan. Kelak Alloh akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Tholaq: 7).

7.       “Dan demi Tuhanmu, maka bersabarlah!”

Sabar adalah pendamping proses usaha. Dan, sabar adalah salah satu kunci pembuka keberhasilan dan kesuksesan. Yakni:
·         Sabar dalam perjalanan (usaha, perjuangan).
·         Sabar dalam menghadapi rintangan.
·         Sabar dalam menunggu hasil.

“Hai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah siap-siaga, dan bertakwalah kepada Alloh agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imron: 200).

“Hai orang-orang yang beriman! Minta tolonglah dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 153).
“... Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imron: 146).

“Sesungguhnya Alloh memberi balasan kepada mereka di hari ini disebabkan kesabaran mereka. Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111).

***

Semoga kita tidak hanya mengenang perjalanan hidup Rosululloh, tapi juga berusaha untuk mengadaptasinya dalam kehidupan kita ini hingga akhir hayat. Sebab, yang namanya jalan hidup (way of life) bukan hanya teori atau semboyan semata, melainkan harus dijalani selama hidup. Itulah jalan keselamatan...
Dan mudah-mudahan di tahun baru ini kita diberi kekuatan oleh Alloh untuk bisa mengisinya dengan hal-hal yang lebih baik dan menjadi yang terbaik hingga tahun-tahun berikutnya. Insya Alloh...

“Sesungguhnya telah ada pada Rosululloh itu tauladan yang baik: bagi orang yang mengharapkan Alloh, dan hari akhirat dan mengingat Alloh sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Barokallohu lii wa lakum...

------------------pnsnc-02012015*********