Thursday, July 9, 2015

KHUTBAH IDUL FITRI: "WISUDA TAKWA"



KHUTBAH IDUL FITHRI:
SABDA AL-QUSHWA

“ WISUDA TAKWA ”



Hadhirin rohimakumulloh...
Alhamdulillah. Dengan izin Alloh, pagi ini kita bisa berkumpul untuk melaksanakan ibadah sholat Idul Fithri dalam putaran satu tahun sekali. Dan mudah-mudahan kita masih dipertemukan-Nya dengan Romadhon tahun depan. Insya Alloh...

Hadhirin rohimakumulloh...
Pada hari ini berlalu sudah kepenatan, kelelahan, kepayahan, kelaparan, kehausan dan kebosanan. Semua berganti dengan keceriaan, kebahagiaan, tawa dan canda...
Wajah-wajah semua nampak cerah bagai matahari yang merekah di pagi hari ini, diiringi hawa segar yang menyentuh raga, rasa dan jiwa, membangkitkan gairah dan semangat hidup yang penuh pengharapan dan kepasrahan...
Hari ini adalah hari di mana telah sempurnanya hitungan bulan Romadhon. Kita sudah mencukupi bilangannya dan menjalaninya dengan ibadah-ibadah di dalamnya...
Sebagai ungkapan rasa syukur yang melimpah, hari ini kita semarakkan dengan...
  • Takbir: Allohu Akbar Allohu Akbar.
  • Tahlil: Laa ilaaha illalloh wallohu Akbar.
  • Tahmid: wa lillaahil-hamd.

Sebagaimana dalam firman-Nya ini:
“... Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (puasa)-nya, dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”(QS. Al-Baqoroh: 185).

Hadhirin rohimakumulloh...
Romadhon adalah “bulan pembinaan” atau sebagai “Sekolah Tahunan” selama satu bulan penuh. Orang-orang beriman digodok secara intensif, singkat dan padat, dengan pengisian-pengisian berupa materi dan praktek-praktek ibadah, seperti: puasa wajib, sholat tarawih, sedekah, akhlak, kajian-kajian dan lainnya.
Tujuan akhir dari pembinaan “Sekolah Tahunan” itu ialah: “gelar takwa”.  Sebagaimana firman Alloh seiring dengan perintah puasa itu, yakni: “la’alakum tattaquun (agar kamu bertakwa)”. (QS. Al-Baqoroh: 183). 
Maka, berakhirnya hari-hari Romadhon, itu berarti sudah selesai (tamat) prosesi pembinaan di “Sekolah Tahunan” tersebut. Dan inilah saatnya untuk memberikan pernyataan kelulusan dan gelar.
Oleh sebab itu, tepatnya, hari ini adalah sebagai “hari wisuda” bagi orang-orang beriman, yaitu bagi mereka yang sudah mengisi hari-hari Romadhon dengan muatan-muatan ibadah yang maksimal: fokus, sungguh-sungguh dan habis-habisan (layaknya Romadhon itu tak akan ada lagi)!

Hadhirin rohimakumulloh...
Saya tegaskan lagi, bahwa hari ini adalah sebagai “hari wisuda”, yakni “wisuda takwa” bagi orang-orang beriman!
Dengan demikian, hari ini menjadi “suci” (fithrah). Karena orang-orang beriman “kembali” dinobatkan sebagai orang-orang yang “takwa”. Maka sangatlah tepat, kalau hari ini sebagai hari Idul Fithri, yang berarti “kembali suci”.
Karena kesuciannya hari ini, seolah-olah sebagai “hari kelahiran yang kedua” bagi orang-orang beriman. Sebab pada kelahirannya yang pertama dulu pun dalam keadaan suci (fithrah). Sebagaimana sabda Rosululloh ini:  
“Setiap anak yang dilahirkan adalah lahir di atas fithrah (suci). Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhori).

Hadhirin rohimakumulloh
Setelah lulus dari “Sekolah Tahunan” Romadhon dan hari ini diwisuda untuk mendapatkan gelar takwa, maka Alloh menyematkan gelar takwa itu di “sini” (ditunjukkan ke dada). Sebagaimana sabda Rosululloh ini:
“At-taqwaa hahuna, at-taqwaa haahunaa. (Takwa itu di sini).”(HR. Muslim).

Dari hadits tersebut, dengan jelas bisa pahami, bahwa antara “takwa” dan ”hati” mempunyai hubungan yang sangat erat satu sama lain, dan ini tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan orang-orang mukmin.
Saya akan rinci definisinya satu per satu...

v  Takwa (penulisan arabnya menggunakan “q”, yakni taqwa), asal rumpun katanya ialah qowiya, yang artinya: kuat, keras, kuasa. Secara sederhana, “takwa” bisa disimpulkan ialah: “suatu kekuatan dalam hati yang mampu menggerakkan diri manusia untuk menembus penghalang menuju Tuhan”.
Seiring dengan firman Alloh ini:
“Demikianlah, dan sesungguhnya orang yang mengagungkan syiar-syiar Alloh, maka sesungguhnya itu lahir dari ketakwaan hati.”(QS. Al-Hajj: 32).

v  Hati (qalb, heart), bisa diartikan dalam dua pemahaman:
Pertama: secara jasadiyah (fisik, jasmani). Dalam pengertian ini, hati diketahui merupakan segumpal darah di dalam tubuh manusia, yang berbentuk seperti buah apel dibelah dua yang posisinya menelungkup. Ia bisa dilihat (bentuknya), bisa disentuh (wujudnya), bisa digenggam (kecil/besarnya), bisa ditimbang (beratnya) dan bisa diukur (luasnya). Dan ia  terletak dalam dada sebelah kiri.
Kedua: secara ruhiyah (bathiniyah, psikologis). Dalam pengertian ini, hati hanya bisa dirasakan keberadaannya. Ia tidak bisa dilihat, tak bisa disentuh, tidak bisa ditimbang dan tidak bisa diukur. Penunjukkannya ke dada (bila merasakan sesuatu), adalah sebagai simbol keberadaannya di situ.

Hadhirin rohimakumulloh...
Dalam pengertian yang kedua (ruhiyah) itulah, hati dan takwa bisa saling berhubungan. Karena itu, Alloh menilai manusia berdasarkan hatinya . Sebagaimana sabda Rosululloh ini:
“Sesungguhnya Alloh tidak melihat ke badan kamu, tidak ke rupa kamu dan pekerjaanmu, tapi melihat langsung ke hatimu.”(HR. Muslim).

Dengan jelas, standar penilaian Alloh ialah pada hati. Sebab, penguasaan diri manusia itu berawal dari hatinya. Sabda Rosululloh menjelaskan:
“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ingatlah, ia itu adalah hati.”(HR. Muslim).

Dari hadits tersebut bisa dipahami, bahwa hati bisa menjadi “baik” (sholih) dan menjadi ”rusak” (fasad). Kebaikan dan/atau kerusakan ini bisa mempengaruhi seluruh tubuh pemilik hati itu, bahkan juga bisa mempengaruhi lingkungan kehidupannya.
Adapun “hati yang baik” ialah hati yang diselimuti oleh ketakwaan, dan “hati yang rusak” ialah hati yang dikuasai oleh syetan.

Hadhirin rohimakumulloh...
Bersemayamnya ketakwaan dalam hati, akan melahirkan dampak positif luar biasa dalam sistem kehidupan manusia secara global.  Artinya, tidak hanya diri perorangan, tapi seluruh manusia di muka bumi ini akan merasakan kebaikannya secara merata. Firman Alloh dengan tegas menyatakan:
“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...” (QS. Al-A’rof: 96).

Dan dalam ayat lainnya, Alloh menjelaskan dengan sangat menarik:
“... Barangsiapa yang bertakwa kepada Alloh, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka...”(QS. Ath-Tholaq: 2-3).

Tapi, sebaliknya dari takwa, niscaya akan mendatangkan azab Alloh dari arah yang sama:
“... Tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Alloh), maka kami azab mereka tersebab perbuatannya.”(QS. Al-A’rof: 96).
“Katakanlah: ‘Dia-lah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu dari atas kepalamu dan dari bawah kakimu’...”(QS. Al-An’am: 65).

Hadhirin rohimakumulloh...
Alangkah indahnya, nyamannya, damainya dan bahagianya hidup di dunia ini, bila ketakwaan ada di dalam dada-dada para penghuninya: Hidup penuh berkah, dan rezeki mengalir dari mana-mana, bahkan tanpa diminta lagi...
Oleh sebab itu, masing-masing diri hendaknya menyadari, bahwa (sudah cukup jelas) betapa pentingnya ketakwaan dalam hidup ini. Dan anjuran Rosululloh:
“Bertakwalah kepada Alloh di mana pun kamu berada. It-taqillaha haitsumaa kunta.”(HR. At-Tirmizy).

Itu artinya, ketakwaan akan membawa kebaikan di mana pun adanya seseorang. Karenanya, orang yang takwa itu sangat berguna dalam lingkungannya. Sebagaimana sabda Rosululloh ini:
“Sebaik-baiknya kamu ialah yang berguna bagi manusia yang lain.”


Hadhirin rohimakumulloh...
Kita ini sebenarnya ialah “pemimpin”. Awal kepemimpinan kita ialah terhadap diri sendiri, sebelum terhadap orang lain. Sebagaimana sabda Rosululloh ini:
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai tanggung-jawabnya tentang apa yang kamu pimpin.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Pemimpin yang takwa ialah pemimpin yang mengajak rakyatnya ke jalan Alloh saat di dunia, hingga kemudian masuk ke dalam surga di akhirat. Di samping itu,  ia juga berusaha mensejahterakan, melindungi, menyayangi dan membela rakyatnya.
Dan, rakyat yang takwa ialah rakyat yang setia kepada pemimpinnya yang takwa itu, selalu mendoakannya agar tetap sehat dan amanah, membantu mempertahankan kepemimpinannya, dan berjuang bersama demi membangun negara agar maju, kuat dan diridhoi Alloh ‘Azza wa Jalla.
Nah, kalau pemimpin sudah sama-sama takwa, maka negara di mana mereka berpijak..., itulah yang disebut  “Baldah thoyibah wa Robbun ghofur. Negeri yang indah dan Tuhan menyayanginya”!

Hadhirin rohimakumulloh...
Inilah keistimewaan-keistimewaan takwa yang bisa kita peroleh di dunia ini:
§  Takwa membuat manusia menjadi mulia.
“... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling takwa di antaramu...” (QS. Al-Hujurot: 13).
§  Takwa merupakan akhir kehidupan yang baik bagi manusia.
“... Dan kesudahan (akhir) yang baik itu adalah bagi orang-orang yang takwa.”(QS. Al-A’rof: 128).
§  Takwa menjadi bekal terbaik satu-satunya menuju Negeri Akhirat.
“... Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, Alloh mengetahuinya. Dan berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal ialah takwa. Maka bertakwalah, hai orang-orang yang berpikir!”(QS. Al-Baqoroh: 197).

 Dan inilah keistimewaan-keistimewaan yang luar biasa bagi orang-orang yang bertakwa di akhirat:

§  Ketakwaan menjadi mahkota kebanggaan.
“Dan mahkota di akhirat ialah takwa. wa syaroful-akhiratit-taqwaa.”(HR. At-Tirmizy dan Baihaqi).
§  Ketakwaan sebagai tiket satu-satunya untuk masuk surga dengan aman.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”(QS. Ali Imron: 130).

Hadhirin rohimakumulloh...
Dalam kesucian hari ini, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang lulus dari “Sekolah Tahunan” Romadhon yang singkat itu. Dan hari ini merupakan hari “Wisuda Takwa” buat kita sekalian, sehingga kita layak menyandang “Gelar Takwa” tahun ini, yang akan membawa kemuliaan hidup sampai tibanya hari kematian.
Dan, akhirnya, mudah-mudahan Alloh masih memperkenankan kita untuk bertemu dengan Romadhon tahun depan. Insya Alloh...

Allohu Akbar Allohu Akbar
Laa ilaaha illalloh wallohu Akbar
Allohu Akbar wa lillahil-hamd.

Allhumma sholli ‘ala Muammad wa ‘ala ali Muhammad.
Allohummaghfirli waliwalidaina
warhamhuma
kama robbayana shighoro.

Allohummaghfirlil-muslimin wal-muslimat
wal-mu’minin wal-mu’minat
al-ahya-i minhum wal-amwat.


Robbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan
wa fil-aakhiroti hasanatan
wa qinaa ‘adzaaban-naar.

Barokallohu lii wa lakum.  

*******

















Saturday, July 4, 2015

PERSEKONGKOLAN JIN DAN MANUSIA


                                                “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
kecuali agar mereka menyembah-Ku.”
 (QS. Adz-Dzariyat: 56).


SERAMBI KAJIAN
Alloh menciptakan jin dan manusia sebagai dua sosok makhluk yang berbeda: mulai dari asal/bahan penciptaannya hingga ke soal keberadaannya dalam kehidupan di dunia ini.
Jin diciptakan dari api yang panas. Firman Alloh:
“Dan Alloh menciptakan jin dari inti api dari api.” (QS. Ar-Rohman: 15).
Dan manusia diciptakan dari tanah, sebagaimana perkataan Iblis yang tercatat dalam Al-Quran:
“Firman Alloh kepada Iblis: ‘Apakah yang menghalangimu hingga tidak sujud (kepada Adam)?’
Jawab Iblis: ‘Aku lebih baik dari pada Adam. Engkau ciptakan aku dari api, dan Engkau ciptakan dia dari tanah’.” (QS. Al-A’rof: 12).

Selain itu, jin dan manusia memiliki alam kehidupan yang berbeda. Yakni, jin berada di alam ghoib (tidak terlihat dan tidak tersentuh), dan manusia berada di alam zhohir: terlihat dan tersentuh. Tersimpul dalam firman Alloh ini:
“... Sesungguhnya dia (jin) melihat kamu (manusia), yaitu dia dan komunitasnya, dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka...” (QS. Al-A’rof: 27).

Lalu...
Apakah ada ketetapan antara jin dan manusia untuk saling berhubungan, seperti dalam hal: komunikasi, pergaulan, sosialisasi dan interaksi-interaksi lainnya?
Jawabnya: Tidak ada !
Sebab, dengan sudah jelasnya alam kehidupan mereka masing-masing, tentu mereka memiliki aturan-aturan tersendiri di alam mereka masing-masing itu. Yang berarti, bila jin masuk (menerobos) alam kehidupan manusia, atau sebaliknya manusia masuk (menerobos) alam kehidupan jin, maka hal itu secara logis adalah merupakan sebuah tindakan pelanggaran.
Tapi, ternyata, kasus pelanggaran itu sudah terjadi sejak awal-awal kehidupan manusia di bumi ini hingga hari ini, tanpa mereka merasa bersalah. Yakni, manusia dan jin saling bersekongkol (kerjasama, kolaborasi) dalam hal kepentingan diri mereka masing-masing.

Inilah salah satu pernyataan jin yang diabadikan dalam Al-Quran:
“Dan sesungguhnya kami (para jin) mengira, bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Alloh.”
“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki yang meminta perlindungan (bantuan, kerjasama) kepada beberapa laki-laki dari bangsa jin, maka menambahkan mereka dosa dan kesesatan.” (QS. Al-Jin: 5-6).

Nah, dalam hal apa saja manusia dan jin saling bersekongkol?

TIGA TITIK KRITIS
Ada “tiga titik kritis” yang menjadi sentral persekongkolan manusia dan jin dalam kehidupan di dunia ini. Yaitu...

Pertama: Dalam Hal Harta
Dalam rangka untuk mempercepat-waktu dan mempermudah-cara demi mendapatkan harta yang lebih besar, banyak manusia menggunakan jasa-jasa jin, seperti melalui cara: hipnotis (sirep, sihir), pesugihan (monyet, babi), bank ghoib, dan pemujaan-pemujaan lainnya yang berbau mistik dan di luar logika.
Dalam hal tersebut, manusia mendatangi dukun, orang pinter, paranormal, kuncen dan “calo-calo dunia ghoib” lainnya yang berada di gunung-gunung, rumah-rumah keramat dan tempat-tempat mistis lainnya.

Kedua: Dalam Hal Jabatan
Demi mendapatkan, memenangkan, menaikkan, menggeser atau menjatuhkan jabatan..., seseorang bisa melakukan cara-cara yang melibatkan jin di dalamnya, seperti menggunakan: ilmu guna-guna, santet, teluh atau ritual-ritual lainnya.
Manusia yang melakukan hal-hal seperti itu adalah orang yang tidak mau bersaing dengan orang lain (mungkin karena keterbatasan fisik, ilmu dan kemampuannya). Ini adalah karakter orang yang tidak mau menyadari keadaannya: memaksakan diri hendak “memeluk gunung” meskipun tangannya tak sampai.

Ketiga: Dalam Hal Kesaktian
Banyak orang yang ingin tampil sebagai orang yang kuat, jago dan tak terkalahkan. Tujuannya bisa untuk jaga diri sendiri atau menakut-nakuti orang lain. 
Di antara “ilmu-ilmu kesaktian” yang diberikan jin kepada manusia ialah seperti: anti senjata (tahan pukul, tahan bacok, tahan peluru dan ketahanan-ketahanan lainnya), bisa terbang di udara, bisa berjalan di atas air, bisa menyelam ke dalam air, bisa menghilang dari penglihatan, bisa bertahan dibakar api, bisa berlari cepat, dan yang lain-lainnya (yang berada di luar pemahaman logika).
Di samping itu, jin yang dijadikan tameng kesaktian itu bisa disemayamkan (ditempatkan) ke dalam bentuk golok, keris, batu, isim dan benda-benda mistik lainnya, sebab jin itu zatnya seperti asap yang bisa berubah-ubah wujud.

PROSESI PERSEKONGKOLAN
Prosesi awal dimulainya persekongkolan ialah manusia melakukan ritual pemanggilan jin. Yakni dengan membaca mantera-mantera (umumnya terdiri dari bahasa Jawa kuno, bahasa Sansakerta, bahasa Arab, atau gabungan dari bahasa-bahasa tersebut), dengan menyediakan suguhan-suguhan (persembahan) berupa makanan dan minuman dari tumbuhan-tumbuhan, darah hewan atau darah manusia.
Kemudian melakukan puasa beberapa hari tertentu dengan hanya memakan nasi putih dan air putih saja (puasa mutih), atau puasa beberapa hari tanpa makan sahur dan berbuka (puasa pati geni).
Setelah itu, datanglah jin yang akan menjadi tameng kesaktian itu. Jin inilah yang akan melakukan penjagaan-penjagaan dari serangan musuh itu.

MANFAAT SOSIAL
Setelah manusia melakukan persekongkolan dengan jin itu dan mendapatkan apa yang diinginkannya, apakah dia menjadi orang yang terbaik di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatannya?

Mari kita lihat kenyataannya di lapangan...

Ø  Apakah orang-orang yang kaya dari hasil bersekongkol dengan jin itu mereka menjadi orang yang sangat pemurah: banyak peduli, banyak sedekah, banyak menyumbang, dan banyak berbuat baik lainnya?
Pada kenyataannya mereka malah menjadi kikir dan penuh perhitungan dalam hal pengeluaran hartanya itu. Justeru mereka lebih rakus dan serakah lagi. Sebab, jin yang sudah menitipkan hartanya itu tidak mengizinkan hartanya digunakan semaunya oleh orang-orang yang sudah dititipinya itu.
Lebih celaka lagi, mereka malah menjadi rentenir yang mencekik dan merampas aset-aset orang-orang yang miskin dan tak berdaya.
Ø  Apakah orang-orang yang menjadi pejabat dengan bantuan jin itu lantas banyak membantu bawahannya?
Mereka itu sebenarnya adalah orang-orang yang ambisi untuk mendapatkan jabatan. Mungkin mereka sudah berkahayal, bahwa dengan menjadi pejabat itu akan mudah untuk meraih fasilitas-fasilitas dalam hidup ini (terutama gampang untuk mengeruk uang yang banyak). Karena itu, apapun caranya akan mereka tempuh demi sebuah jabatan sekalipun harus meminta bantuan jin. Yakni dengan mendatangi dukun-dukun atau orang-orang pinter untuk meminta peranan jin agar orang-orang atau masyarakat di lingkungannya mau memilihnya menjadi pemimpin tertentu.
Maka, manalah mungkin dari orang-orang seperti itu akan lahir pejabat-pejabat yang mengutamakan kepentingan orang lain dan masyarakat umum. Malah yang ada, mereka hanya sibuk untuk mengurusi kepentingan dirinya sendiri dan orang-orang yang menjadi budaknya semata.
Ø  Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sakti karena bantuan jin itu? Apakah mereka menjadi penolong dan pembela bagi orang-orang yang lemah?
Kenyataan yang banyak terlihat, mereka malah berlaku sombong, sok jagoan dan tak mau mengalah (sekalipun salah). Ilmu kesaktiannya digunakan untuk menakut-nakuti orang, merampok, membegal, memeras, membunuh dan melakukan tindakan kriminal lainnya. Sebab, tujuan awal untuk mendapatkan ilmu kesaktian itu, pada umumnya, untuk penjagaan diri sendiri, tanpa ada unsur-unsur untuk membantu dan melindungi orang-orang lemah yang membutuhkannya.

Itulah kenyatan yang ada di lapangan...
Jadi, orang-orang kaya, para pejabat  dan orang-orang sakti yang sudah bersekongkol dengan jin..., maka peranan mereka bagi perbaikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat umum... adalah sangat minim. Buktinya, di saat kemiskinan, kekacauan dan kejahatan melanda di tengah masyarakat luas, mereka tak terlihat di sana untuk melakukan aksi pemberantasan. Ya, karena mereka hanya mementingkan diri sendiri semata!

TUNTUTAN-BALIK
Apakah bantuan yang diberikan jin itu gratis?
Tentu: Tidak!
Sesuai perjanjian, manusia dituntut untuk memberikan sajian-sajian, suguhan-suguhan atau persembahan-persembahan, berupa makanan dan minuman yang berasal dari tumbuhan, daging mentah atau darah segar (bisa berasal dari hewan atau manusia).
Persembahan itu diberikan satu kali secara rutin dalam seminggu, sebulan atau setahun. Jika persembahan itu tidak dipenuhi, maka semua fasilitas yang sudah diberikan oleh jin itu akan ditarik lagi secara total tanpa ada kompromi lagi atau kematian akan mengakhiri persekongkolan itu.

DAMPAK BURUK YANG LEBIH PARAH
Setelah terjalin persekongkolan dengan jin dan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan (dalam hal harta, jabatan dan kesaktian), maka manusia akan jatuh ke dalam kekafiran atau kemusyrikan.
·         Dia akan menjadi kafir manakala dia menganggap bahwa semua yang dia dapat itu tanpa ada hubungannya dengan Alloh, dan dia berkata dengan sombong sebagaimana orang-orang terdahulu:
“Sesungguhnya aku diberi semua nikmat itu karena ilmu yang kumiliki...” (Az-Zumar: 49).
“Aku kira tidak akan binasa (semua yang kumiliki) ini selamanya. Dan aku tidak mengira bahwa hari kiamat itu akan datang...” (QS. Al-Kahfi: 35-36).
Itulah orang yang sombong, yang mengganggap bahwa semua yang dia raih adalah berkat kemampuannya semata, seolah-olah Alloh “tidak punya peranan” sama sekali dalam tindakan usahanya itu.
·         Dia akan menjadi musyrik manakala dia menganggap bahwa ada “pihak selain Alloh” yang bisa memberinya fasilitas-fasilitas kemewahan seperti itu. Hal ini sama saja menganggap ada “tuhan” selain Alloh.
Dia lakukan hal tersebut, sebab dia  merasa kalau meminta kepada Alloh itu lama dikabulkannnya, sedangkan meminta bantuan jin itu sangat cepat dipenuhinya. Meskipun demikian, dia masih tetap percaya kepada Alloh.
Alloh tentu tidak akan menerima perbuatan orang seperti itu. Firman-Nya:
“Telah pasti datangnya ketetapan Alloh, maka janganlah kamu meminta agar disegerakannya. Maha Suci dan Maha Tinggi Alloh dari apa yang mereka permusyrikan.” (QS. An-Nahl: 1).

AKHIR KEHIDUPAN
Akhirnya, meskipun manusia memiliki ilmu kesaktian, tetap saja berakhir dengan kematian. Walaupun dia tidak bisa mati dibunuh oleh orang lain, tapi takdir Alloh untuk mencabut ruhnya tidak ada yang bisa menghalangi-Nya seorangpun.

“Tiap-tiap umat (makhluk) mempunyai ajal (batas waktu hidup). Maka apabila telah datang ajal itu kepada mereka, tidaklah mereka bisa menundanya sebentarpun dan tidak dapat pula mempercepatnya.” (QS. Al-A’rof: 34).
“Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 34).

Namun, akhir kehidupan orang-orang yang telah bersekongkol dengan jin, sungguh sangat tidak wajar, mengenaskan, menyakitkan dan mengerikan. Seperti inilah yang sering terjadi...
·         Mati sebelum tiba waktunya. Yakni, setelah perjanjian sudah jatuh temponya (10 tahun, 20 tahun atau lebih), maka jin merekayasa peristiwa kematian, seolah-olah itu kematian yang sebenarnya. Dan, misalnya, pohon pisang diserupakan dengan mayatnya, sedangkan wujud raga aslinya entah dibawa kemana oleh jin.
·         Sulit saat sakaratul maut. Sebab, jin-jin yang telah membantu bertahun-tahun tidak mau ditinggal mati oleh orang yang telah bersekongkol itu. Lalu para jin itu melakukan rekayasa gerakan-gerakan hidup yang nampak seolah-olah teman bersekongkolnya itu masih bertahan hidup normal. Perjalanan “kehidupan rekayasa” para jin itu kurang-lebih 1-2 bulan.

Jelas, proses kematian seperti itu menjadi beban bagi si korban dan bagi orang-orang yang menangani pengurusannya.
Itulah proses kematian yang akan dialami oleh orang-orang yang telah bersekongkol dengan jin dalam rangka memperoleh fasilitas-fasilitas yang mudah dan memuaskan dalam kehidupan di dunia ini.

KESIMPULAN
Maka, berdasarkan kajian di atas, bahwa BERSEKONGKOL DENGAN JIN itu LEBIH BESAR KERUGIANNYA dari pada keuntungannya, sebagaimana sudah Alloh jelaskan ini:
“Dan bahwa ada beberapa orang laki-laki dari bangsa manusia meminta perlindungan (bantuan, pertolongan) kepada beberapa laki-laki dari bangsa jin, maka jin-jin itu hanya menambahkan dosa dan kesesatan kepada manusia.” (QS. Al-Jin: 6).

Di samping itu, tidak ada contoh dari Rosululloh bahwa beliau melakukan kontak atau komunikasi dengan bangsa jin dalam rangka bekerjasama untuk saling bantu-membantu satu sama lain.
Adapun yang tertera dalam surat Al-Jin: 1-19 dan surat Al-Ahqof: 29-31 itu adalah kisah sekelompok jin yang mendengarkan sebagian ayat-ayat Al-Quran yang dibaca oleh Rosululloh ketika beliau sholat maghrib di dusun Nakhlah. Sementara beliau tidak tahu-menahu kehadiran sekelompok jin itu, beliau tahu setelah turun wahyu surat Al-Jin itu, dus tidak tegur-sapa atau percakapan lain antara beliau dengan para jin itu.

Dengan demikian, tidak ada alasan apapun yang bisa dibenarkan untuk boleh bersekongkol dengan bangsa jin. Dan, demi menutup pintu kekafiran dan kemusyrikan, maka HARAM melakukan persekongkolan dengan bangsa jin dalam bentuk apapun.

Nah, berusahalah sesuai hati dan logika yang normal dan bisa dipahami secara manusiawi...

“Dan Alloh yang menahan (nikmat/rezeki) dan melapangkan (nikmat/rezeki)...” (QS. Al-Baqoroh: 245).
“Alloh melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki, dan menyempitkan rezeki (kepada siapa yang dikehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (tidaklah seberapa nilainya) dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kecuali hanya kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ro’d: 26).

Barokallohu li wa lakum...

***************na,03072015*************



Tuesday, March 17, 2015

CINTA FIRA (SEBUAH MINI NOVEL)

CINTA FIRA
(Bukan Sembarang Cinta)

Ini adalah sebuah buku novel. Namun isi ceritanya mungkin tidak begitu panjang, sehingga saya (penulis) sempat menyebutnya sebagai "novel mini".

Fira... adalah tokoh sentral dalam buku ini. Dia adalah sosok perempuan yang menginginkan bisa masuk ke dalam surga di akhirat nanti.
Namun, mungkin perjalanan yang dia tempuh tidaklah bisa diterima oleh kebanyakan kaum wanita. Sebab, dia merelakan dirinya menjadi isteri muda (isteri kedua) dari seorang ustadz, yang nota-bene adalah mantan gurunya dulu sewaktu masih di SD (sekolah dasar).

Perjodohannya dengan mantan gurunya itu tidaklah ada unsur dorongan dari orang lain. Malah justeru, dia sempat merindukan mantan gurunya itu saat dia lulus dan meninggalkan sekolah dasar itu. Ada apa?
Ya, karena dalam hati Fira sudah ada rasa "suka" sejak SD itu, yang istilahnya biasa disebut sebagai "cinta monyet".

Dan, di saat Fira menjadi seorang janda itulah... dia bertemu lagi dengan mantan gurunya, yang katanya "ganteng" itu...

Lalu, bagaimana prosesi perjalanan selanjutnya itu...?
Ya, di samping penuh bunga-bunga yang indah dan romantis, tapi juga... banyak duri-duri yang menantang...!

Tapi, memang Fira sudah memantapkan hatinya untuk terus maju demi menggapai surga. Maka layaklah, kalau perjalanan cinta Fira itu diabadikan menjadi sebuah judul buku... CINTA FIRA.

CINTA FIRA... bukanlah sembarang cinta...!

Buku CINTA FIRA ini belum terbit secara umum. Saya baru mencetaknya hanya untuk pribadi saja.
Keinginan saya adalah MENJUAL naskah buku ini.
Ada yang minat ?!
Harga tawaran: Rp. 5jt.
Silahkan hubungi saya: Tlpn, sms, wa, line 08977745997, atau via komentar di blog saya ini. 

******

KATAKAN CINTA DENGAN PUISI (sinopsis/ringkasan)

KATAKAN CINTA DENGAN PUISI
(Melayang Di Alam Indah Penuh Pesona)

Ini adalah buku yang berisi puisi-puisi. Yakni, puisi-puisi tentang perasaan: cinta, rindu, cemburu, benci, kecewa dan penyesalan.

  • Untuk orang-orang yang sudah berusia tua, buku ini akan menjadi kenangan tentang masa muda dulu. Setidaknya, puisi-puisi dalam buku ini bisa mengembalikan ke perasaan di masa-masa yang sudah berlalu itu. Dengan membaca buku ini, mungkin saja bisa memberikan gairah baru dalam hidup ini, dan seakan-akan... bayangan masa lalu hadir kembali saat ini...
  • Dan untuk remaja, buku ini sudah tentu sangat membantu untuk menyatakan cinta, rindu atau cemburu... kepada seseorang yang digandrunginya. Sebab, mengungkapkan isi hati (yang berisi cinta), bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Nah, buku ini akan mencairkan kekeluan di lidah/bibir. 
Jadi, intinya... buku ini adalah untuk mempermudah penyampaian isi hati. Bisa ditulis di secarik kertas, atau disampaikan lewat SMS.

Adapun MENU/ISI buku ini ialah dibagi dalam 3 (tiga) kajian:
  1. Jatuh Cinta. Yakni, berisi puisi-puisi tentang perasaan jatuh cinta.
  2. Bertepuk Sebelah Tangan. Yakni, berisi puisi-puisi tentang perasaan yang belum jelas jawabannya dari seseorang, atau diacuhkan cintanya.
  3. Kecewa. Yakni, puisi-puisi tentang cinta yang ditolak, dikhianati atau diremehkan.
Dan, total puisi yang ada dalam buku ini lebih dari 100 buah. (Untuk lebih jelasnya, silahkan miliki buku ini).

Satu hal yang harus anda tahu, bahwa membaca buku ini akan membuat anda... seakan melayang di alam indah penuh pesona tanpa batas...


******